BREAKING NEWS
latest

728x90

468x60

header-ad

Kekuasaan Itu Lambang Keadilan dan Sumber Kebijaksanaan

Arsyad (kanan) saat berpose bersama mantan WalokotaJakarta, Sandiago Uno

Pertanyaannya, dalam situasi seperti sekarang ini, Apakah, seorang penguasa yang menunjukan sikap baik disela-sela, daerah tengah dilanda krisis pandemik politik dan pandemik corona, dapat di anggap sebagai seorang yang baik, adil, bijak dan perhatian terhadap warganya?.
Bisa saja.!! Tetapi ukuranya perlu diperhatikan sebelumnya apakah sikap seperti itu pernah ditampilkan sebelumnya, terkadang penguasa kerap menyadari kelalalainya itu, ketika mendekati pergantian kekuasaan, mereka berubah menjadi baik, padahal sebelumnya, menganggap dirinya seorang penguasa dan bukan pelayan masyarakat yang melayani sesuai tujuan dasar kekuasaan. dalam pengandaian saya watak penguasa semacam itu seprti watak "janus", bersikap baik, adil, bijak, manakala Dia" membutuhkan yang nilai keuntungan bagi dirinya dan bersikap buruk ketika tidak menginginkan sesuatu pada warganya.

Tilaku, tutur seperti itulah yang ditampilkan dan dipertontongkan oleh seorang penguasa daerah sekarang ini, bukan menampilkan hasil kinerja dan reputasi keberhasilan yang menyenangkan hati rakyat, jangan dikira warganya bodoh dan tidak paham.

Dalam keadaan tertentu seperti keadaan saat ini, penguasa sering tampil di khalayak umum, bergaya seperti bagaikan seorang pujangga ditemani oleh para kolega-temannya, yang sering menyanjung tutur dan argumen-nya itu, mereka tampil menunjukan esisten diri dan berusaha menyakinkan kepada seluruh warganya dan kehendak memberi pesan bahwa dia adalah penguasa yang adil dan bertanggung jawab dan penuh perhatian pada seluruh warganya.

Sikap seperti itu justru akan memunculkan pertanyaan sinis apakah sikap mereka itu sesuai dengan hasil kinerja, reputasi kebijaksaannya. Dan secara empris bahwa realitas mengatakan bahwa presentasinya masih sama alias stacknan atau jalan ditempat serta tidak punya arah tujuan yang jelas mau dibawah kemana daerah ini.

Dan untuk mewujudkan impian daerah perlunya peletakan dasar pembangunan yang berorientasi pada masa depan dan keadaan seperti saat ini kondisi daerah tidak membutuhkan tutur, argumen apapun, itu tidak cukup mampu untuk meyakinkan lahirnya kesejahteraan dan kemajuan dan butuh kerja kongkrit yang melahirkan tunas baru kedepan akan berbuah manis untuk menjamin stabilitas disegala spektrum kehidupan pemerimtah dan masyarakatnya.

Dan untuk itu para penguasa perlu belajar dan mengambil hikmah pada pengalaman yang lalu-lalu, dimana orang-seorang yang dikatakan adil, bijaksana dan penuh perhatian itu, dalam pengandaian saya seperti seorang 'Gembala ternak" selalu setia menemani ternaknya dan bersedia menghantarkannya ternaknya dimana ladang subur yang menghasilkan rumput terbaik yang diperlukan oleh ternaknya.

Itulah kesimpulan tentang orang-seorang yang baik, adil dan bijaksana.  

Dapatkah dikatakan bahwa seorang penguasa yang setiba menjadi, baik, adil, bijak, ketika wilayahnya terjadi krisis pandemik? Dia hadir ditengah-tengah masyarakat dengan membawa sekantong bingkisan dan amplop yang berisi secuil recehan sebagai bentuk kebaikan diri pribadinya sebagai seorang penguasa terhadap warganya.

Sikap itu makin memperkokoh dan mengatakan bahwa dirinya adalah penguasa bukan pelayan masyarakat yang melayani, gaya penampilan penguasa seperti ibarat dia' sedang menumpang gelombang krisis pademik covid.19, untuk membangun terus bagi kepentingan dirinya. Tipe penguasa bukanlah serperti seorang pedagang melakukan transaksi.

Dia tipe melayani.Dan tilaku penguasaan semacam itu' dapatkah dijadikan teladan? jawabannya tentu TIDAK.

Ada pepatah kuno, mangatakan bahwa bagaimanapun orang dianggap baik adil, bijak oleh teman dan warganya, belum tentu dia seperti itu dan dia bisa juga berubah menjadi seorang pencuri. Lebih lanjut penguasa serakah, mereka yang sangat lihai diantara manusia dalam hal mencuri dan melanggar sumpah mereka dan ciri itu dimiliki oleh para penguasa sekarang ini, mereka menunjukan sikap adil ketika mereka membutuhkah nilai yang menguntungkan bagi dirinya. Begitulah cerminan wajah para penguasa kita saat ini.

BINAR (Bincang Nalar)

Ada pepatah kuno, mengatakan, anda jangan takut salah dan mencela para penguasa, karena sikap-seperti itu, bisa membuka jalan bagi penguasa untuk mempertajam kebenaran, kebijaksanaan serta keadilan.

Salam.
Penulis adalah 

Direktur Utama
CV.Lestari Agro Techno Farm
dan
Pernah bekerja bergabung dalam:
KEPENGURUS FOKKA JABOTABEK, KETUA BIDANG EKONOMI
« PREV
NEXT »

Tidak ada komentar